Kaligrafi Islam merupakan salah satu cabang seni yang memadukan keindahan visual, ketelitian, dan nilai-nilai spiritual. Dalam rangkaian kegiatan Lomba Kaligrafi, diperlukan sesi berbagi pengalaman dari praktisi yang berpengalaman sebagai juri dan peserta berbagai kompetisi kaligrafi. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan, motivasi, serta pemahaman teknis kepada peserta untuk meningkatkan kualitas karya dan penguasaan seni kaligrafi.

Dalam rangka penilaian dan sharing Lomba Kaligrafi dan Lettering Ponpes YUUK mengundang ahli dan senior di bidang kaligrafi di Solo. Beliau adalah Ustadz Supriyadi, M.Pd. Beliau aktif Mengajar di Pondok Pesantren dan Ma’had Aly Ta’mirul Islam Surakarta, serta sebagai pengurus Yayasan Pendidikan Darul Huffaazh Surakarta.
Sejak masa pelajar hingga mahasiswa, beliau aktif menekuni seni kaligrafi Islam dan berhasil menorehkan berbagai prestasi di tingkat regional maupun nasional. Pada tahun 2000, beliau meraih Juara 1 Lomba Kaligrafi Tingkat SMA se-Karesidenan Surakarta serta Juara 2 Lomba Kaligrafi Tingkat Jawa Tengah–Daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan oleh STAIN Surakarta. Prestasi tersebut berlanjut dengan perolehan Juara 2 Lomba Kaligrafi Antar Pesantren se-Solo Raya pada peringatan 1 Muharam 2001.
Pada tahun 2004, beliau semakin menunjukkan kualitasnya sebagai kaligrafer dengan meraih Juara 1 Kaligrafi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Kota Surakarta, Juara 3 Kaligrafi MTQ, serta Juara 1 Lomba Kaligrafi Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kemudian pada tahun 2006, beliau berhasil meraih Juara 2 Kaligrafi MTQ Tingkat Jawa Tengah dan Juara Harapan 1 pada MTQ Mahasiswa Nasional yang diselenggarakan di Bandung.
Pengalaman panjang sebagai peserta dan peraih prestasi dalam berbagai kompetisi kaligrafi menjadi bekal berharga yang mengantarkan beliau dipercaya sebagai juri dalam berbagai ajang kaligrafi bergengsi. Sejak tahun 2014, beliau aktif menjadi juri pada MTQ Cabang Kaligrafi Jawa–Bali IAIN Surakarta serta AKSIOMA Musabaqah Khattil Qur’an (MKQ) Solo Raya. Kepercayaan tersebut terus berlanjut pada berbagai penyelenggaraan AKSIOMA Solo Raya, MTQ Mahasiswa Nasional Universitas Sebelas Maret (UNS), MTQ cabang Kaligrafi, MAPSI Kota Surakarta, hingga berbagai kompetisi kaligrafi yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan dan organisasi kemasyarakatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, beliau juga dipercaya menjadi juri pada POSPEDA Kota Surakarta, MTQ Nasional UNS, Kompetisi Kaligrafi Nasional UIN Raden Mas Said Surakarta, MAPSI SD dan SMP Kota Surakarta, MAPSI Provinsi Jawa Tengah, serta berbagai kompetisi kaligrafi tingkat perguruan tinggi. Konsistensi dan dedikasi beliau dalam bidang seni kaligrafi Islam menjadikannya salah satu figur yang berpengalaman dalam pembinaan, penilaian, dan pengembangan prestasi kaligrafi di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.
***
Melalui sesi berbagi ini, peserta diajak untuk memahami bagaimana seni kaligrafi Islam terus berkembang dari masa ke masa. Kaligrafi tidak lagi hanya dipandang sebagai media ekspresi keindahan tulisan Arab, tetapi juga telah bertransformasi menjadi bagian dari dunia desain visual yang menuntut kreativitas, inovasi, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pemahaman terhadap tren dan dinamika tersebut menjadi bekal penting bagi para seniman dan desainer agar tetap relevan serta mampu menghasilkan karya yang bernilai.
Selain membahas perkembangan kaligrafi, narasumber juga membagikan pengalaman praktis sebagai peserta berbagai kompetisi dan sebagai juri dalam beragam perlombaan kaligrafi. Dari pengalaman tersebut, peserta memperoleh gambaran nyata mengenai proses berkarya, tantangan yang dihadapi, serta aspek-aspek yang menjadi perhatian dalam penilaian lomba. Berbagai tips dan strategi untuk meningkatkan kualitas karya, mulai dari penguasaan teknik, ketelitian, hingga pengembangan karakter visual, turut dibagikan sebagai bekal untuk meningkatkan daya saing di tingkat yang lebih tinggi.
Pada akhirnya, perjalanan menjadi seniman dan desainer yang unggul bukanlah tujuan yang dicapai dalam waktu singkat, melainkan proses pembelajaran yang berlangsung sepanjang hayat. Kreativitas perlu terus diasah, kemampuan teknis harus senantiasa ditingkatkan, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru perlu dipelihara. Dengan semangat belajar yang berkelanjutan, pemahaman yang baik terhadap standar penilaian, serta kemauan untuk terus berkembang, setiap peserta memiliki peluang untuk menjadi seniman dan desainer yang kompetitif, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi perkembangan seni dan budaya Islam.
Editor: Daru Nurdianna